Harta Karun Cirebon 47 milyar

Posted: May 18, 2010 in news

Pemerintah akan melelang 271.381 keping benda berharga muatan kapal tenggelam yang diangkat dari perairan Cirebon, pada 5 Mei 2010. Pelelangan dilakukan melalui Kantor Piutang Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta III dan terbuka untuk pasar internasional. Barang ini terdiri dari ribuan potong batu permata, rubi, emas, dan keramik Kerajaan Tiongkok, serta perkakas gelas Kerajaan Persia. Hasil lelang menurut rencana akan dibagi rata antara pemerintah dan perusahaan yang melakukan eksplorasi. Pengangkatan benda berharga muatan kapal tenggelam di Cirebon yang berlangsung sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005 itu dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd dengan izin Pemerintah Indonesia.

Sebanyak 2.366 benda bersejarah berupa mangkok dan piring yang ditaksir bernilai Rp 47 miliar akan diserahkan ke Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam (Pannas BMKT).  Barang-barang berharga itu diduga dari dasar perairan Cirebon, Jawa Barat. Menurut Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Cirebon Letkol (P) Deny Septiana, harta karun itu ditemukan dari dua kapal tanpa awak, yaitu KLM Alini Jaya dan KLM Asli, Juli tahun lalu. Itu akan kami serahkan, rencananya akan diserahkan ke Pannas BMKT ,” kata Deny di markasnya, Senin (29/3/2010).  Dari jumlah tersebut, lanjut Deny, pihaknya akan memilah barang-barang yang akan dijadikan sebagai barang bukti sebelum diserahkan. Penanganan kasus ini selanjutnya diserahkan kepada Bareskrim Mabes Polri.

Disebutkan Deny, nilai satu buah mangkok yang ternyata peninggalan Dinasti Ming dari Tiongkok itu bisa mencapai Rp 20 juta per item. Jika jumlahnya mencapai 2.366 item, bisa ditaksir nilai totalnya mencapai Rp 47,3 miliar.   Ada seorang kolektor yang berani membeli barang kuno itu Rp 20 juta per item. Jika dikalikan, jumlah semuanya bisa mencapai Rp 47,3 miliar,” katanya. Pada beberapa bulan lalu , petugas patroli TNI AL mencurigai kapal tanpa awak yang mengapung di perairan sekitar Ciasem Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.   Dari dalam kapal tersebut petugas menemukan ribuan benda kuno berupa mangkok dan piring peninggalan Dinasti Ming. Mengenai kemungkinan harta karun lain yang terpendam di sekitar perairan Cirebon, Deny meyakini hal tersebut bisa terjadi.

BMKT (Benda Muatan Kapal Tenggelam) diarsipkan secara khusus oleh tim dari perusahaan jasa pengarsipan PT.Paradigma Putera Sejahtera sejak Pengangkatan diatas kapal di utara Cirebon.”Kami melakukan pengarsipan sejak pengangkatan BMKT di atas kapal,” kata Direktur Utama Paradigma Putera Sejahtera Andi Agung T di sela-sela acara lelang BMKT Cirebon di Ballroom Mina Bahari III Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rabu di Jakarta.

Andi mengemukakan, sistem pengarsipan BMKT pertama dilakukan ketika pengangkatan dari bawah laut. Tim pengarsipan tersebut  memiliki nomor awal BMKT dan ketika diklasifikasikan setiap barang memiliki  dua nomor yaitu nomor nomor awal pengangkatan dari dasar laut dan  nomor  jenis klasifikasi barang.  Pengarsipan yang dilakukan perusahaan Andi melibatkan  hampir  40 orang sedangkan Panitia Nasional BMKT  melibatkan dua arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. “Mereka setiap hari bekerjasama untuk melakukan klasifikasi barang, yang dilakukan dari sejak awal pengangkatan BMKT yaitu pada bulan April 2004 sampai dengan turunnya izin pemanfaatan di tahun 2006 hingga 2007,” kata Andi.

Proses pengarsipan dan desalinasi itu  dilakukan selama selama satu setengah tahun setelah pengangkatan terakhir pada bulan oktober 2005. Pengarsipan dilakukan dengan pengawasannya dari unsur TNI AL Lantamal II Tanjung Priok yang menugaskan empat marinir di kapal. Pengawas lainnya adalah dari  Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata  serta dari Kementerian Pertahanan yang masing-masing menugaskan satu pengawas.

Museum bawah laut

Fenomena penemuan ribuan artefak bawah laut yang menggambarkan jejak kejayaan maritim Indonesia pada masa lampau sudah saatnya mendorong pemerintah untuk mendirikan museum bawah laut serta membangun museum bahari pada lokasi-lokasi eks kerajaan bahari. Sudirman mengemukakan, sudah saatnya Indonesia memiliki museum artefak bawah laut yang menjadi bukti jejak kejayaan maritim Nusantara pada abad silam. Museum itu tidak hanya menampilkan nilai sejarah kapal beserta isinya, tetapi juga kemajuan budaya kerajaan-kerajaan di Nusantara. ”Museum itu bisa menggambarkan nilai sejarah kapal beserta peninggalannya, kerajaan Indonesia, atau negara lain yang pernah bermitra dengan kerajaan kita pada masa lampau,” ujarnya.

Kendati demikian, ujar Sudirman, keinginan itu terbentur kapasitas negara yang tidak memadai, baik sumber daya manusia maupun pembiayaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka diri terhadap Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) guna membicarakan kemungkinan pembangunan museum bawah laut, kriteria lokasi, pemeliharaan, dan pengawasannya.

Dari potensi ratusan titik benda berharga muatan kapal tenggelam di perairan Indonesia, perlu diseleksi lokasi yang paling tepat untuk museum bawah laut. Dengan demikian, benda-benda peninggalan di museum itu kelak dapat dinikmati sebagai obyek wisata bahari. Di sisi lain, perlu dibangun museum bahari di beberapa wilayah eks kerajaan maritim Nusantara guna menyimpan koleksi artefak bawah laut yang telah diangkat. ”Dengan diangkat ke permukaan, masyarakat umum dapat mengetahui jejak peninggalan sejarah maritim,” ujarnyaArtefak Dilelang, Artefak Dimuseumkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s